Google+ Badge

Sabtu, 02 Februari 2013

Masjid Di Sydney di tengah kehidupan tidak Islam


Pada umumnya ketika datang pertama kali ke Australia, Sydney khususnya, yang muncul di benak seorang Muslim adalah kekaguman akan keteraturan, kebersihan dan keramahan penduduk Sydney. Biasanya kekaguman tersebut diikuti dengan ucapan : “Negara dan penduduk di sini lebih Islami dibandingkan dengan di negeri-negeri yang mayoritas penduduknya Muslim”.
Mereka lupa bahwa keinginan untuk hidup teratur, kebersihan, keramahan, kejujuran dan hal-hal sejenisnya adalah nilai-nilai universal yang juga dimiliki oleh Non Muslim, dan ingin mereka terapkan semaksimal mungkin dalam sebuah kehidupan masyarakat normal.
Kalau kita tinggal lebih lama di Negara ini serta mau meneliti lebih jauh dengan kritis pola hidup masyarakat mereka, lambat laun akan terlihat kehidupan mereka yang sangat tidak Islami, seperti bebasnya menjual dan mengkonsumsi minuman keras, dimana sangat mudah kita jumpai bar-bar penjual minuman keras di sepanjang jalan pertokoan. Disamping itu kita juga dengan mudah menjumpai tempat-tempat perjudian, ataupun iklan-iklan penjaja sex yang masuk ke rumah-rumah melalui majalah-majalah lokal yang diberikan secara gratis. Setelah beberapa lama tinggal di Sydney kitapun akan dibuat terbelalak, bahwa setiap tahun sekali ada pesta yang sangat semarak yang dilakukan dengan cara pawai di jalanan untuk para kaum homoseksual dan lesbian, pesta tahunan ini diberi nama Mardi Gras, disinyalir pesta ini sebagai salah satu pesta kaum homoseksual terbesar di dunia. Pemerintah Australia mengalami dua masalah besar yang menjangkiti mental masyarakatnya, yaitu masalah ketergantungan pada alkohol dan masalah perjudian. Layanan iklan masyarakat yang ditampilkan di TV berulangkali menunjukkan bahaya kecanduan alkohol dan judi, pemerintah menghimbau kepada masyarakat untuk tidak terlalu berlebihan mengkonsumsi alkohol atau menjadi pecandu judi, tetapi pada sisi lain pemerintah melegalkan penjualan kedua produk dagangan tersebut di tengah-tengah masyarakatnya. Dari beberapa hal di atas jelas terlihat bahwa kehidupan masyarakat di Australia sangat jauh dari nilai-nilai Islami.
Di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang jauh dari nilai-nilai Islam tersebut, Muslim di Australia berusaha mempertahankan akidahnya sekuat mungkin. Cukup banyak usaha yang dilakukan secara perorangan maupun berjamaah untuk menjaga akidah mereka, beberapa contoh kegiatan yang dilakukan secara berjamaah antara lain adalah membuat kelompok-kelompok pengajian (majelis taklim), mendirikan bangunan Masjid untuk dijadikan sebagai pusat kegiatan peribadatan serta aktifitas lainnya, mendirikan sekolah-sekolah Muslim, membentuk organisasi-organisasi Islam, dan lain sebagainya. Salah satu yang terpenting adalah Masjid, dimana Masjid ini selain sebagai tempat sarana ibadah, juga dipergunakan untuk berbagai kegiatan yang dimaksudkan untuk mempertebal keimanan dan pengetahuan Islam bagi Muslim yang ada di Australia, seperti pengajian rutin atau pelajaran mengaji. Menurut data yang ada di Australia terdapat lebih dari 85 Masjid dan sekitar 50 Musolah (tempat sholat), untuk itulah dalam reportase kali ini saya akan menuliskan beberapa Masjid yang ada di Sydney beserta aktifitasnya. Salah satu hal yang menarik, dari 5 Masjid yang saya jadikan obyek tulisan yaitu Masjid Besar Lakemba, Masjid Gallipolli Auburn, Masjid Al-Hijrah Tempe, Masjid IMAAN Arncliffe, dan Masjid Rooty-Hill meskipun jamaah yang datang ke masjid tersebut berasal dari berbagai etnik atau bangsa yang berbeda, tetapi pengurus dari masjid tersebut berasal dari etnik/bangsa tertentu.
Masjid Besar Lakemba
Masjid ini didirikan dan dikelola oleh komunitas Muslim yang berasal dari Lebanon. Orang-orang yang berasal dari Lebanon bermigrasi ke Sydney-Australia pada pertengahan abad 19. Pada tahun 1959, komunitas Muslim Lebanon di Sydney mulai membangun Masjid yang terletak di suburb (kalau di Indonesia kecamatan) Lakemba, dan keberadaan Masjid ini disahkan oleh pemerintah pada tahun 1961. Lakemba adalah suburb yang dikenal sebagai daerah Muslim, karena banyaknya Muslim yang tinggal di daerah ini. Di daerah Lakemba ini kita akan mudah menemukan makanan halal dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya di Sydney. Setelah mengalami berbagai pemugaran dan perbaikan, maka pada tahun 1977 Masjid Besar Lakemba sempurna menjadi sebuah bangunan Masjid. Masjid Besar Lakemba merupakan salah satu bangunan yang menunjukkan karakteristik Islam yang penting di Australia. Nama Masjid ini adalah Masjid Ali bin Abi Thalib, tetapi lebih dikenal dengan Masjid Besar Lakemba.
Khutbah Jum’at di Masjid Besar Lakemba yang terletak di jalan 65-67 Wangee Road-Lakemba ini disampaikan dalam bahasa Arab, kemudian disarikan intinya dalam bahasa Inggris. Selain digunakan untuk ibadah salat 5 waktu serta salat Jum’at, Masjid besar Lakemba mempunyai banyak program kegiatan, program-program tersebut antara lain :
- Hari Senin, ceramah seusai salat Isya yang disampaikan dalam bahasa Inggris oleh Syeikh Shady dengan topik umum yang bersifat motivasi.
- Hari Selasa, pelajaran bahasa Arab dan mengaji al-Qur’an untuk semua level dari kelas pemula, menengah, serta kelas lanjutan (advance). Program ini dilaksanakan setelah shalat Isya.
- Hari Rabu, ceramah seusai salat Isya yang disampaikan dalam bahasa Arab oleh Syeikh Yahya.
- Hari Kamis, ceramah seusai salat Isya yang disampaikan dalam bahasa Inggris oleh Syeikh Shady.
- Hari Minggu, ceramah seusai salat Isya yang disampaikan dalam bahasa Arab oleh Syeikh Yahya.
- Setiap hari Jum’at setelah selesai salat Isya, dilaksanakan ceramah yang disampaikan dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris, kemudian dilanjutkan dengan I’tikaf sampai sabtu pagi. Pada saat I’tikaf diisi dengan berbagai kegiatan ceramah, jumlah yang hadir mencapai 300 orang.
Masjid Gallipolli
Masjid Gallipolli Auburn pertama kali dibuka dan digunakan sebagai tempat ibadah pada tanggal 3 September 1979, pada saat itu bangunan Masjid masih berupa rumah yang dibuang dinding penyekat di ruang dalamnya, sehingga bisa digunakan untuk tempat ibadah. Perombakan dan pembangunan gedung masjid dimulai pada 23 September 1986, dan selesai serta diresmikan sebagai sebuah bangunan masjid yang sempurna pada 28 September 1999. Pembangunan dan penyempurnaan Masjid ini membutuhkan waktu sekitar 13 tahun, hal ini disebabkan karena terbatasnya dana yang tersedia, namun demikian pada akhirnya Masjid ini merupakan salah satu Masjid besar yang ada di Sydney, dimana luas bangunan Masjid ini mencapai 4000 M2,
Arsitek dari Masjid ini adalah Omer Kirazoglu, dimana desain bangunan Masjid sama dengan beberapa bangunan Masjid yang ada di Turki seperti di Eskisehir, Turhal dan Fakultas Teologi Universitas Istanbul. Batu marmer yang digunakan untuk dinding luar Masjid dan teras didatangkan langsung dari Turki, sedangkan karpet yang digunakan berasal dari Istanbul, dimana karpet ini khusus digunakan untuk bangunan Masjid. Di dalam bangunan Masjid Gallipoli terdapat banyak lukisan kaligrafi, serta hiasan lampu-lampu kristal. Pada Tahun 1993 ukiran dan kaligrafi di dalam Masjid yang disain oleh pelukis kaligrafi Huseyin Oksuz dikerjakan oleh 5 pelukis kaligrafi dalam waktu 5 1/2 bulan. Sedangkan lampu-lampu kristal yang mencapai jumlah 25 jenis dibuat dan berasal dari Turki.
Khutbah Jum’at di Masjid Gallipolli yang terletak di jalan 15-19 North Parade-Auburn ini disampaikan dalam bahasa Turki. Selain digunakan untuk ibadah salat 5 waktu serta salat Jum’at, Masjid Gallipolli mempunyai beberapa program kegiatan. Selain kegiatan belajar mengaji, Masjid Gallipolli juga menyelenggarakan kursus tentang Islam antara lain :
- Pengetahuan Tentang Islam, kursus yang dilaksanakan selama 10 minggu ini diperuntukkan untuk Muslim dan Non Muslim yang ingin belajar tentang Islam. Kursus ini lebih ditekankan pada materi dasar tentang Islam, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang Islam dari berbagai latar belakang komunitas baik Muslim maupun Non Muslim. Metode pengajaran ini adalah menunjukkan bukti kebenaran dengan mempergunakan Ilmu science dan pengetahuan, yang dimaksudkan akan mencerahkan baik pikiran dan hati pada saat yang sama.
- Kelas Lanjutan Tentang Islam, kursus ini dilaksanakan selama 10 minggu, membahas tentang sisi praktis dari ajaran Islam, menjelaskan bahwa Islam harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kursus ini Menjelaskan bagaimana menjalankan kehidupan yang seimbang dengan baik melalui pelaksanaan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
- Peningkatan kemampuan individu, kursus ini dilaksanakan selama 6 minggu, dimana kursus ini dimaksudkan untuk memberikan bekal pengetahuan dan kemampuan untuk menjadi individu yang mandiri. Bagaimana caranya untuk merubah perilaku yang tidak baik, menemukan petunjuk tujuan hidup sebenarnya, serta memberikan pengaruh yang baik terhadap interaksi dan kehidupan di rumah, tempat kerja, maupun dalam komunitas. Kursus ini diperuntukkan bagi Muslim maupun Non Muslim.
Masjid Rooty Hill
Pada tahun 1983, komunitas Pakistan, India, Bangladesh dan Fiji (Indian Sub Continent Community) membentuk badan organisasi yang dinamakan Islamic Asociation of Western Suburb Sydney. Organisasi ini dibentuk untuk mencari dana guna membangun sebuah Masjid. Pada tahun 1987, dari dana yang terkumpul dibeli tanah seluas 3,2 Ha, dimana pada areal tanah tersebut terdapat sebuah rumah kecil yang digunakan untuk salat dan aktifitas lainnya. Pada tahun 1991, setelah keluar ijin pembangunan Masjid dari Council (Pemerintah Daerah) setempat, dimulailah pembangunan Masjid Rooty Hill. Pembangunan Masjid selesai pada tahun 1997, kemudian diteruskan dengan pembangunan gedung sekolah Islam, dan pada tahun tersebut sudah bisa dijalankan aktifitas pendidikan untuk Taman Kanak-Kanak (TK). Tiap tahun Sekolah Islam tersebut bertambah kelasnya, hingga pada saat ini sekolah tersebut sudah mempunyai kelas-kelas TK, SD dan SMP. Meskipun sekolah tersebut dikelola oleh Indian Sub Continent Community, tetapi banyak dari komunitas lain yang sekolah disana, termasuk komunitas Indonesia. Antara Masjid dan Sekolah berada pada satu areal dan di bawah satu organisasi, tetapi masing-masing mempunyai pengurus yang berbeda.
Khutbah Jum’at di Masjid Rooty Hill yang terletak di jalan 25-29 Woodstock Ave-Rooty Hill ini disampaikan dalam bahasa Urdu dan Bahasa Inggris, sedangkan setiap selesai salat subuh selalu disampaikan ceramah singkat dalam bahasa urdu, kemudian disarikan dalam bahasa Inggris. Selain digunakan untuk ibadah salat 5 waktu serta salat Jum’at, Masjid Rooty Hill mempunyai beberapa program kegiatan, diantaranya adalah belajar mengaji dan bahasa Arab bagi anak-anak dan remaja yang dilaksanakan setiap hari, yang terbagi dalam beberapa kelas. Masjid ini juga menyelenggarakan persiapan dan pemberangkatan ibadah Haji, setiap tahun diadakan manasik haji dalam bahasa Urdu dan bahasa Inggris.
Selain itu setiap bulan sekali diadakan pengajian rutin yang dikelola oleh komunitas Banglades. Meskipun pengajian ini dikelola oleh komunitas Banglades dan kebanyakan yang datang adalah Muslim dari komunitas ini, tetapi pengajian ini terbuka untuk umum, pengajian disampaikan dalam bahasa Inggris. Beberapa kali saya ikut menghadiri pengajian ini, salah satunya ketika yang memberikan ceramah adalah Brother Asraf D seorang aktifis dakwah Hizb ut-Tahrir. Materi dakwah yang disampaikan pada saat itu adalah kewajiban dan pentingnya kita berada pada sebuah Jamaah. Setelah pengajian selesai, dilakukan pemutaran film tentang kondisi Muslim di berbagai belahan dunia yang sedang dalam kondisi memprihatinkan, kemudian dilanjutkan dengan dialog bersama beberapa aktifis yang juga membuka stan penjualan buku-buku Islam. Terlihat susana pemutaran Film dan dialog sangat hangat dan interaktif, acara kemudian ditutup dengan makan bersama.
Masjid Al Hijrah Tempe
Pada tahun 1974, komunitas Muslim Indonesia membentuk sebuah organisasi dakwah yang diberi nama LDPAI (Lembaga Dakwah Pendidikan Agama Indonesia), organisasi ini doprakarsai oleh KJRI. Kemudian pada tahun 1985/1986 organisasi ini berubah menjadi Central Islamic Dakwah & Education (CIDE), dimana secara organisatoris tidak lagi berhubungan secara langsung dengan KJRI, pada saat itu organisasi ini belum mempunyai tempat kegiatan sendiri, kegiatan masih menumpang di Majsid milik komunitas Malaysia (Masjid Zetland). Pada tahun 1991 pengurus CIDE mempunyai inisiatif untuk membeli sebuah bangunan untuk dijadikan sebuah Masjid sebagai pusat ibadah dan pusat kegiatan, maka pada tahun tersebut dibeli sebuah bangunan bekas sebuah Gereja bernama Jehovah Witness Church yang dijual karena sudah tidak dipergunakan lagi. Bangunan bekas gereja tersebut akhirnya dirubah fungsinya menjadi sebuah Masjid, dengan merubah bagian dalamnya. Bagian yang tadinya adalah mimbar untuk khotbah Gereja dijadikan kantor, sedangkan mimbar dan tempat salat Imam dipindah di bagian tengah sebelah barat menghadap arah kiblat.
Dibandingkan dengan ke tiga Masjid besar (Lakemba, Gallipoli dan Rooty Hill), Masjid Al Hijrah Tempe yang dikelola oleh komunitas Muslim Indonesia jauh lebih kecil, bentuk bangunannyapun tidak seperti bentuk Masjid-masjid pada umumnya, tetapi berupa rumah tinggal yang dihilangkan sekat dinding dalamnya hingga dapat digunakan sebagai tempat ibadah. Bila dilihat dari luar, maka tidak terlihat bangunan ini adalah sebuah Masjid, melainkan terlihat seperti rumah tinggal biasa, tetapi ketika kita sudah masuk di dalamnya baru terlihat bahwa bangunan ini adalah sebuah bangunan yang biasa digunakan untuk kegiatan ibadah. Meskipun demikian Masjid Al Hijrah merupakan pusat kegiatan dari komunitas Muslim Indonesia.
Biasanya para pendatang atau Ustad dari Indonesia yang datang berkunjung/memberikan ceramah ke Masjid Al Hijrah Tempe-Sydney selalu bertanya-tanya, mengapa Masjid ini ada kata Tempe-nya ?. Imaji kita segera tertuju pada makanan khas buatan Indonesia tempe, tetapi ternyata Tempe yang dimaksud disini adalah nama sebuah suburb (kecamatan) di Sydney.
Khutbah Jum’at di Masjid Al Hijrah yang terletak di jalan 45 Station St-Tempe ini disampaikan dalam bahasa Indonesia, kemudian disarikan dalam bahasa Inggris. Selain digunakan untuk ibadah salat 5 waktu serta salat Jum’at, Masjid Al Hijrah mempunyai beberapa program kegiatan, diantaranya adalah:
- Pengajian Sabtu malam, pengajian ini merupakan pengajian umum, dimana yang menjadi penceramah bergantian sesuai dengan jadwal yang telah disusun oleh departemen dakwah. Pengajian ini dilaksanakan setelah selesai shalat Isya’, kemudian dilanjutkan dengan diskusi. Setiap sebulan sekali pada minggu pertama dilaksanakan ceramah akbar.
- Pengajian Jum’at malam, pengajian ini diperuntukkan bagi kalangan remaja, disampaikan dengan pengantar Bahasa Inggris. Materi yang disampaikan adalah masalah akidah, fiqih dan tarikh.
- Pengajian Sabtu Pagi, peserta pengajian sabtu pagi ini sangat beragam dan paling lengkap diantara pengajian lainnya, dari anak-anak, remaja, dan orang tua. Pengajian dibagi dalam beberapa kelas, dengan materi membaca Al-qur’an dan ceramah umum untuk anak-anak dan remaja yang disampaikan dalam Bahasa Inggris, sedangkan untuk para orang tua ceramah/tafsir yang disampaikan dalam Bahasa Indonesia.
- Pengajian Minggu Pagi, pengajian ini rutin dilakukan setiap minggu pagi setelah selesai salat subuh. Pengajian ini diasuh oleh Ustad Noorsjamsi, dulu yang selalu memberikan ceramah adalah Ustad Noorsjamsi, tetapi sekarang tidak hanya Ustad Noorsjamsi yang memberikan ceramah tetapi bergantian. Biasanya selesai ceramah dilanjutkan dengan diskusi seputar materi yang disampaikan. Acara kemudian ditutup dengan sarapan pagi bersama sambil melanjutkan diskusi.
Masjid Darul IMAAN
Masjid Darul IMAAN adalah Masjid yang dimiliki dan dikelola oleh komunitas Melayu dibawah naungan organisasi The Islamic Malay Australian Association of NSW (IMAAN). Berdirinya Masjid Darul IMAAN diprakarsai oleh Ustad Abdul Malek bin Muhammad Yusof, yang berasal dari Kuala Terengganu, Malaysia. Anggota dari IMAAN adalah Muslim Australia yang berasal dari berbagai bangsa, diantaranya adalah dari bangsa Melayu (bangsa melayu terdiri dari Malaysia, Singapura dan Indonesia), Mesir, Srilangka, Lebanon, Vietnam, Perancis, Italia, Fiji, Bangladesh, serta India.
Pada tahun 1998 IMAAN membeli sebuah gereja yang sudah tidak dipergunakan lagi dan dijadikan sebagai Masjid serta kantor yang sederhana. Tidak lama setelah itu IMAAN membeli rumah dan tanah disebelah Masjid, sehingga kegiatan dari Masjid tersebut lebih banyak. Menurut beberapa anggota IMAAN, pada saat membeli Gereja untuk dijadikan Masjid mengalami sedikit kesulitan, karena pemilik Gereja tidak mau menjual jika akan dijadikan Masjid. Kemudian salah seorang anggota IMAAN, Richard Crossing H, seorang Australia yang telah memeluk Islam berinisiatif atas nama individu melakukan negosiasi pembelian gereja tersebut, dan pada akhirnya berhasil.
Khutbah Jum’at di Masjid Darul Imaan yang terletak di jalan 10 – 12 Eden St Arncliffe ini disampaikan dalam bahasa Inggris. Selain digunakan untuk ibadah salat 5 waktu serta salat Jum’at, Masjid Darul Imaan mempunyai beberapa program kegiatan, diantaranya adalah: setiap Sabtu pagi diadakan kelas untuk anak-anak dari berbagai usia, mulai dari TK sampai dengan SMU. Materi yang diberikan adalah belajar Al qur’an, tafsir, hadist, bahasa Arab, akidah dan materi Islam lainnya. Selain itu setiap hari minggu pagi diadakan kuliah subuh, dimana materi yang diberikan adalah belajar Al qur’an, hadist, tafsir serta Jawi (bahasa melayu dengan menggunakan tulisan Arab).
Menurut president IMAAN, Tahsin Malek, pada saat ini Masjid IMAAN sudah tidak memadai lagi tempatnya, karena setiap digunakan untuk salat Jumat dan Idul Fitri, jamaah yang hadir melampaui kapasitas yang ada, sehingga banyak yang salat di jalan (di luar Masjid). Untuk itu pengurus IMAAN berinisiatif melakukan pembangunan dan pengembangan Masjid. Karena keterbatasan dana, maka langkah awal yang dilakukan adalah merubuhkan dan membangun kembali rumah tua di sebelah Masjid untuk dijadikan ruangan baru sebagai bagian dari Masjid, serta memperbaiki bangunan Masjid yang sudah ada. Tetapi pada saat pembangunan Masjid tersebut terjadi musibah, pekerja yang melaksanakan pembangunan tersebut membuat kesalahan, mereka menggali selokan di bawah dari fondasi dasar Masjid, sehingga menyebabkan dinding Masjid roboh. Hal ini menyebabkan bangunan Masjid yang sudah ada tidak layak untuk digunakan, sehingga pada saat ini untuk melaksanakan salat Jum’at menggunakan ruangan kantor yang sangat kecil. Sejak dinding Masjid roboh, proyek pembangunan Masjid ini menjadi mundur ke belakang, dan masih membutuhkan banyak dana.
Peranan Masjid di Tengah kehidupan tidak Islami
Di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang jauh dari nilai-nilai Islam, peran Masjid sangatlah penting sebagai sarana untuk ikut serta dalam menjaga akidah umat Islam melalui kegiatan dakwah yang terus menerus. Mendirikan bangunan Masjid di Sydney sama dengan mendirikan bangunan umum lainnya, yaitu melalui prosedur yang telah ditetapkan pemerintah daerah (Council) setempat, dimana salah satu syaratnya adalah adanya pernyataan tidak keberatan dari masyarakat setempat. Pemerintah Australia memberikan cukup kebebasan terhadap kegiatan yang ada di Masjid, hanya setelah peristiwa bom London dan bom Bali II, pemerintah mengusulkan agar para Imam masjid diberi pengarahan apa yang seharusnya boleh mereka ceramahkan. Usulan ini mendapat tentangan cukup keras, akan tetapi setelah Undang-undang anti teroris lolos pada bulan Desember 2005 lalu, sudah dapat dipastikan pengawasan terhadap kegiatan di Masjid akan lebih diperketat, demikian juga pengawasan terhadap para ustad dan aktifis dakwah yang dianggap kritis terhadap pemerintahan Australia.
Ajaran Islam adalah ajaran yang bersifat komprehensif dan integral, sehingga Masjid bukan saja berperan sebagai tempat melaksanakan ibadah mahdhah (ritual) saja, seperti shalat lima waktu, shalat jum'at dan sebagainya, akan tetapi mesjid juga berfungsi strategis dan signifikan sebagai pusat aktivitas sosial, pendidikan dan sisi kehidupan lainnya. Kesadaran akan hal tersebut membuat pengurus Masjid, Ustad, dan aktifis dakwah lainnya menjadikan Masjid di Sydney sebagai pusat aktifitas dakwah serta kegiatan sosial lainnya, seperti pengumpulan dana untuk membantu korban Tsunami di Aceh ataupun bencana alam di Pakistan beberapa waktu lalu. Selain itu oleh beberapa Ustad dan aktifis dakwah, Masjid juga digunakan sebagai tempat untuk mempertebal tsaqafah Islam bagi umat Islam yang ada di Sydney. Sebab hidup pada sebuah masyarakat yang tidak Islami, dimana dapat dengan mudah ditemui longgarnya aplikasi ajaran agama, serta merebaknya dekadensi moral menyebabkan hawa nafsu, kesenangan sesaat, cinta dunia, serta Ideologi dan pemikiran sesat seringkali menjauhkan mereka dari agamanya. Sehingga Muslim di Sydney perlu didekatkan kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya, baik dalam bidang akidah, akhlak, ibadah maupun muamalah
 
 
 
Poskan Komentar